Jumat, 30 April 2010

Inspirator dan Guru Terbaik 2

Catur adalah awal dari segalanya

Aku bukan ahli memainkan bidak catur, tapi lebih pada catur bukan barang baru bagiku. Sebelum usiaku genap untuk masuk Sekolah Dasar, abah sudah memperkenalkan catur. Mulai dari nama nama bidak, abah dengan telaten mengajari cara melangkah bidak bidak tersebut. Kuda, patih, raja, anak, kuncung dan benteng adalah kata kata yang melekat pada diriku disaat aku sendiri belum mengenal dengan jelas hurup dan rangkaian kata-kata.

Permainan ini sempat membersitkan satu cita cita untuk menjadi seorang juara Catur saat orang-orang bertanya, “irman, kalau sudah gede mau jadi apa ?” spontan jawabku “Pecatur !!!”. Perlahan tapi pasti aku sering dimainkan dengan orang orang yang usianya jauh dari aku. Karena saat seusiaku jarang anak tersebut bisa main catur.

Keinginan kuatku untuk jadi pemain catur runtuh saat aku dikalahkan kawan kelasku saat aku SD dulu. Namanya Edi anak kepala sekolah yang neneknya ade kakak dengan kakek saya. Sejak itulah catur tidak lagi jadi bagian hidupku, tapi sampai saat ini kalau ada yang ngajak main catur aku selalu ingat kapan dan apa pengaruh permainan catur ini dalam hidup hidupku dimasa kini dan masa akan datang.

Catur telah membuat otakku tidak pernah berhenti untuk terus bekerja. Dimanapun, kapanpun dan apapun situasinya pikiranku selalu mengarah pada pikiran pikiran besar pada masa akan datang. Bagiku ini agak sedikit berbeda dengan “LAMUNAN”, karena apa yang terpikirkan itu perlahan tapi pasti telah menjadi kenyataan. Sebagai manusia yang tidak pernah sempurna, pikiran atau terawang kedepan juga suka mengarah pada hal hal yang mustahil, jelek, kotor dan tentu saja nyerempet bahaya.

Catur juga yang membuat diriku lebih mengandalkan otak ini untuk daya ingat dan mengedepankan logika dalam segala hal. Urusan pekerjaan, persinggungan dengan lawan jenis, sampai agamapun sebelum otak ini mampu aku berusaha mengoptimalkan peran otak pada titik tidak terbatas. Aku diuntungkan oleh sikap konsistensi pada cara kerja otakku untuk mencapai satu kondisi ideal pada masa akan datang. Aku percaya bahwa memformulasikan satu kondisi pada masa akan datang dinamakan dengan Cita cita. Banyak hal sudah aku rasakan hasilnya. Status pekerjaan, pasangan, dan keahlian yang dirasakan sekarang adalah bentuk dari konsistensi dalam memelihara pikiran pikiran sebelumnya.

Saat ikut proses wawancara di Lembaga Conservation International Indonesia di Jakarta antara bulan September – oktober 2004. Aku ditanya ibu Yuli disaksikan ibu Mega, Amalia Firman dan Irdez Azhar tentang apa yang akan dilakukan jika tidak lagi bekerja di CI. Jawabanku dengan Pasti “5 tahun mendatang aku akan jadi Petani”. Aku diterima di CI tanggal 18 Oktober 2009 dan 5 tahun tambah 1 bulan berikutnya aku berhenti di lembaga yang aku geluti. Tidak ada yang bisa melawan dengan keinginan tersebut. Berbagai strategi dan pendekatan aku lakukan. Hasilnya, aku dan keluargaku saat ini tidak lagi termasuk dalam ke tujuh golongan penerima zakat.

Ada kebiasaan lama yang sampai sekarang tidak bisa dihilangkan karena aku anggap ini berasal dari kebiasaanku mengolah otak sejak kecil dulu akibat stimulus permainan Catur ini. Pertama, adalah keahlian menulisku sungguh buruk dan menjadi satu satu nilai C sewaktu aku kuliah di Fakultan Ekonomi Jurusan Manajemen Keuangan, Universitas Sam Ratulangi itulah pelajaran Bahasa Indonesia. Aku akui orang yang mengetahui tulisanku mungkin hanya diriku saja. Kadang banyak juga tulisan tulisan tersebut aku sendiri suka missing. Kelemahan kedua adalah aku selalu berpikir lebih jauh kedepan dengan berbagai analisa dan konsekuensi logis lainnya padahal yang kita hadapi adalah orang yang membutuhkan pikiran sederhana dulu. Menurutku hal ini lah yang mungkin saja sering menimbulkan konflik saat membangun satu hubungan silahturahmi dengan sesama manusia. Dan konskuensi lain dari permainan catur ini kadang aku jadi orang tidak sabaran dalam menghadapi sesuatu.

Perilaku terakhir yang dipengaruhi oleh permainan catur adalah aku selalu bermain dengan tanpa melihat siapa yang kita hadapi ini. Dalam pandanganku semua orang itu prinsipnya sama yang membedakan adalah kesempatan, keberuntungan dan latar belakang atau sejarah orang tersebut. Kaya, miskin, pejabat, rakyat jelata, dan semuanya itu sudah ada sejak sejarah ini mulai dijalankan. Dari cara bermain caturlah perilaku pendekatanku luarbiasa dipengaruhinya. Aku tidak mengenal takut pada siapapun walaupun taruhannya adalah pekerjaan, keluarga maupun nyawa sekalipun. Aku akan selalu berhadapan dengan kondisi dimana aku pasti melawan ketidakbenaran dan ketidakadilan dalam ruang atau lingkunganku bermasyarakat dan bekerja. Rata rata setelah waktu tertentu nasibku selalu pemecatan dan pembubaran team karena dalam diriku selalu tanpa kompromi dalam bernegosiasi. Dalam setiap permainanku kadang aku mengorbankan perwira dan seluruh bidak yang kupunya sampai titik darah penghabisan daripada harus menunggu dan memainkan strategi lainnya. Tapi sifat tersebut mulai ada penyesuaian saat diriku bergabung dengan lembaga CI. Dan alih alih diakhirpun tetap saja sifat bertahan pada keyakinan bahwa apa yang kita perjuangkan juga berdampak pada berakhirnya hubungan kerja di CI. Aku punya niatan lain dalam mengakhiri hubungan tersebut, yakni aku punya cita cita dan tindakan yang sangat urgent sebagai petani di lembur.

Aku menyadari ada ahli dan pemikir besar telah menjadikanku saat ini, kemandirian berpikir, selalu berfikir ke masa akan datang, menyukai sejarah sebagai dasar dan latar belakang kenapa kekinian ini bisa terjadi dan keberanian mengambil keputusan. Tentu saja ada pikiran pikiran lainnya yang mempengaruhi saat ini karena interaksiku dengan dunia aktivis dan bacaan bacaan kesukaan ku yang sering berbeda dengan kebiasaan pikiran mahasiswa lainnya. Mas Pram, mas Marx, Nabi Muhamad SAW, Tan Malaka, Arif Budiman, Mansur Fakih dan begitu banyak tokoh besar lainnya telah menambah hasanah berfikirku yang selama ini telah ditanamkan oleh seorang sekretaris desa dan sekaligus pelopor Soksi di Kabupaten Tasikmalaya.

Tanah dan inisiatif yang ditimbulkan

Beberapa waktu sebelum abah meninggalkan kami semua. Abah sebenarnya telah meninggalkan harta terbesar bagi seluruh warga Desa Mandalamekar. Dengan tidak menafikan peran dari tokoh tokoh desa lainnya abah telah membuat tertibnya kepastian dan kedudukan kepemilikan lahan bagi masyarakatnya. Otaknya adalah kamus berjalan bagi setiap warga saat bertanya tentang kepemilikan lahan. Walaupun dirinya belum ke tempat yang ditujukan oleh warganya, abah bisa menyelesaikan konflik kepemilikan maupun sejarah kepemilikannya. Sebelumnya aku tidak ngeh dengan situasi tersebut. Setelah diskusi yang panjang lebar dengan aktivis senior Papua ka Abner Korwa baru aku sadar sepenuhnya bahwa abah telah meletakan satu pondasi terbesar dalam sejarah perjuangan besar manusia dimuka bumi ini. Abah telah membaca jauh sebelumnya saat dirinya jadi karyawan salah satu BUMN perdagangan (Jaya Bakti) mengenai bentuk dan namanya mungkin ada kesalahan. Tapi abah telah mendapat begitu banyak pengetahuan dan mungkin sudah menjadi ideologinya kalau penguasaan tanah yang tertib dan benar oleh setiap rakyatnya maka kehidupan yang berikutnya akan lebih mudah. Aku termasuk orang yang sangat dipengaruhi oleh dirinya. Sewaktu kuliah dulu, aku tidak mempunyai pikiran bahwa modal terbesar bagi sebagaian rakyat di Indonesia ini adalah kepemilikan yang jelas tentang Tanah. Aku sendiri orang yang cukup skeptis terhadap kepemilikan tanah tersebut. Ternyata aku salah besar dalam hal ini. Baru 5 tahun terakhir sejak pikiranku terbuka aku mensinergikan tiga tujuan besar jika rakyat Indonesia bisa bangkit. Kemandirian pengetahuan, keterampilan, penguasaan alat produksi dan kepemilikan lahan adalah mutlak dan jadi prasyarat dalam perlawanan bangsa dan tentu hal kedua adalah dukungan dan berjuang bersama masyarakat yang sadar akan ketertindasan dan ketidak adilan. Sementara terakhir adalah ketersediaan dan dukungan alam dalam pengolahan lingkungan yang ada. Kita butuh ketersediaan pasokan air, udara yang sehat dan lahan yang subur. Desa Mandalamekar sudah memastikan lahan bersama itu ada untuk kepentingan pertanian warganya. Luar biasa… itu pernyataanku saat menyadari apa yang sebenar-benarnya telah dilakukan seorang abah.

Aku yakin dan percaya saudara kandung ku lebih banyak, kreatif dan berwarna lagi dalam menggali inspirasi dan pembelajaran yang telah diberikan abah kepada kami. Abah telah memberikan media kepada kami ruang diskusi depan rumah kami yang setiap saat selalu ada perdebatan, pembangunan konsep dan strategi yang intinya telah menggerakan sebuah status kemasyarakatan lebih baik sebelumnya.

Salah besar secara substansial orang yang mengatakan bahwa pendidikan akan mengentaskan kemiskinan. Menurut dan pengalamanku yang sebenarnya adalah pendidikan telah memberikan kita pengetahuan, keterampilan dan cara mencari berbagai alternative untuk merubah perilaku kita pada masa akan datang. Pendidikan yang benar tidak akan menjadikan kita sebagai robot kesayangan para pemilik modal yang pada waktunya robot tersebut sudah aus akan diganti dengan robot-robot baru lainnya.

Betul saat ini di Indonesia pengikut pendidikan formal telah menjadikannya jabatan dan harta berlimpah, karena memang Indonesia saat ini masih mewarisi penjajahan dan system kapitalisme dalam diri pengambilan kebijakan. Abah merelakan semua itu dengan mengambil keputusan pulang kampung di akhir tahun 1960 an dan membangun gubuknya sebagai langkah awal berjuang di Desa Mandalamekar. Abah bagiku tidak akan tergantikan, mungkin abah bisa tergantikan jika kita 8 bersaudara bersatu mengoptimalkan dirinya.

Kamis, 29 April 2010

Inspirator sekaligus guru terbaik 1

Catatan pertama dalam blog ini aku persembahkan untuk seorang inspirator utama aku dan 7 saudara kandung hingga aku yang punya nama IRMAN MEILANDI ini punya keinginan tidak terbatas untuk kembali ke kampung setelah meninggalkannya selama 23 tahun lebih. Menurut perhitungan, aku masih tertinggal 4 - 5 tahunan karena si pemberi inspirasi telah mengambil keputusan untuk ngabdi dikampung saat dirinya berumur 30 tahunan setelah ngumbara ke kota di akhir tahun 60-an. Tahun ini genap 1 tahun inspirator tersebut telah meninggalkan keluarga besar Cikiray, tapi kami yakin pikiran dan tindakannya akan selalu terkenang dan jadi panutan.


Keluarga Petir/Cikiray


Aku adalah anak ke 5 dari 8 saudara dari keluarga besar Umar Sanusi (alm) dan P. S. Fatimah. Orang-orang di kampung sering menyebutnya keluarga Petir atau Cikiray. Penyebutan istilah dari satu tempat yang ada di Kedusunan Cinunjang, Desa Mandalamekar, Kecamatan Jatiwaras, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat.

Desa yang masih mendapat predikat IDT alias desa tertinggal ini berada di tengah tengah perbukitan (300 - 600 dpl) di bagian selatan Kabupaten Tasikmalaya. Setiap obrolanku sering menyisipkan julukan desa ini adalah ujung dunia. Banyak akses jalan menuju ke desa ini tapi semuanya hampir dikatakan putus. Alasannya tiada lain karena kondisi infrastruktur menuju tempat tinggalku saat ini rusak berat. Jika beruntung, mobil bisa mencapai kampung ini selama 2,5 jam dari kota Tasik dengan jarak tidak lebih dari 30 KM. Kondisi tersebut sudah berlaku sebelum belanda menginjak kaki ke Indonesia. 3 hari lalu saja saat menelpon mamah, suara yang keluar darinya adalah keluhan karena tidak ada satu kendaraan umum pun yang bisa mengantarkan dirinya ke ke Kota dengan alasan hujan.

Keluarga ku tidak termasuk golongan berlebih, kalau mau jujur pendapatan seorang Sekretaris Desa (waktu itu) sangat jauh dari tanda tanda hidup berkecukupan. Abah uu adalah panggilan akrab anak anaknya dan seluruh warga di kampung punya lahan warisan keluarga cukup luas bagi ukuran di kampung. Tapi waktu itu hampir 80 persen kebunnya diolah petani penggarap. Abah menyisakan lahan untuk beraktivitas bertaninya persis dibelakang rumah dimana hasil olahannya paling buah buahan yang telah ditanam leluhurku.

Sosialis Tulen

Teringat kejadian dimana aku masih SD diajak abah ke kebunnya di Cibeureum tidak jauh dari rumah. Rasanya senang sekali bisa melihat kebun dan ikut menanam padi di kebun tersebut. Orang di kampung menyebutnya huma atau berladang. Walaupun sewaktu kecil aku hidup dan beraktivitas di kampung, jujur aku tidak banyak mendapat memori sebagai keluarga petani. Memoriku penuh dengan aktivitas abah selaku Sekretaris Desa karena rumah tinggal ku pernah dijadikan kantor desa dan sering para punduh (Kepala dusun), hansip, kuwu (kepala desa) dan tokoh-tokoh kampung datang ke rumah. Sampai sampai sebelum umur 9 tahun pun aku sudah bisa mengoperasikan mesin tik untuk sekedar buat surat atau apapun pesanan tamu abah.

Pesan abah yang tertanam dalam benakku sampai sekarang adalah "Jangan mengambil sembarang hasil dari kebun sebelum kita meminta izin kepada penggarap yang mengolah kebun ini. Walaupun kita tahu kebun ini milik kita, pohon atau tanaman ini kita yang menanam. Kita harus minta izin darinya. Kita harus bersyukur karena selama kita ini masih bisa makan tanpa mengambil dari kebun ini dan belum tentu si penggarap telah mendapat hasil yang cukup dari garapan di kebun kita. Sebagai seorang anak SD waktu itu tentu saja aku nurut untuk tidak mengambil sesuatu dari kebun, padahal dalam benakku waktu itu "aku hanya mau ambil daun singkong". Sekarang aku paham dan mengerti ternyata abah adalah sosok yang benar benar mumpuni seorang ideolog sosialis. Setelahnya aku baru tahu saat membongkar berkasnya ada satu ijazah abah keluaran Sekolah menengah sosial di Solo tahun 50 an.

Kejadian lain aku terima dari obrolan mamah kalau sedang merindukannya. "Mamah ini kadang Keuheul (jengkel) sama abah. inilah cerita mamah ku "Waktu itu mamah butuh pisang karena mau kedatangan tamu dari kecamatan. (Terbayang memori lama kalau Camat mau berkunjung ke desa ku. Pasti rumahku jadi tempat singgahnya). Mamah minta abah tolong carikan pisang di kebun karena selama ini jarang sekali penggarap ngirim bagi hasilnya tapi Abah langsung bilang tidak ada. Mungkin Tuhan harus membukakan kejadian yang selama ini sengaja atau tidak oleh abah ditutupi, ada penjual pisang menawarkan pisangnya ke mamah. trus dia beli. Mamah belum ngeh kalau si penjual pisang itu adalah penggarap di kebun abah. Dia tanya pisang ini dari mana ?, si penggarap dengan jujur bilang ini dari hasil garapannya di kebun abah. trus dengan rasa penasaran mamah tanya kenapa selama ini si penggarap ga pernah ngirim hasil ke rumah ? sekali lagi si penggarap menjawab dengan jujur bahwa dirinya selama ini sering bilang ke abah kalau ada hasil dari kebun dan berterus terang hasil panennya jarang sekali cukup untuk kebutuhan keluarganya. masih menurut si penggarap abah jawab "kalau tidak cukup, hasil itu jangan dikirim ke rumah." trus waktu saya minta izin pisang ini mau dijual untuk kebutuhannya abah bilang jual saja ke istrinya, karena dia tahu mamah lagi butuh pisang. mungkin karena kepolosannya penggarap pun datang ke rumah.

Aku sendiri kalau mengingat cerita mamah ini sering ketawa sendiri dan bisa juga memaklumi rasa jengkel mamahku. tapi kadang kalau diresapi lebih dalam aku sendiri merasa bersyukur bahwa aku selama ini sudah begitu banyak diberikan pengetahuan dan empati langsung bagaimana seharusnya memperlakukan orang orang yang tidak seberuntung aku saat ini. Kadang disaat aku sedang mengalami kesulitan saat melakukan pendampingan atau beradaptasi dengan masyarakat langsung di Tanah Papua, di Minahasa, di Maluku. Aku sering menggunakan naluri dan pengetahuanku dari pengalaman hidup dan obrolan obrolan orang tua, kakak tentang perilaku abah dalam bermasyarakat.

Semasa tuanya abah bergaul dengan siapa saja mulai dari sesamanya sampai anak kecil.

Tidak sekedar Formalitas, tapi ada keyakinan didalamnya

Kecuali yang bungsu, ke enam saudara dan tentu saja diriku mendapat pengalaman hidup prihatin untuk sekedar memperoleh pendidikan formal. Tapi sekarang aku paham kenapa kedua orang tua ku begitu mementingkan seluruh anak anaknya harus berpendidikan dan tidak membatasi cita cita lebih tinggi untuk mengambil pendidikan formal. Dan tentu saja bukan sekedar berharap tapi langsung menginstruksikan, mengharuskan semua anak anaknya minimal berpendidikan sarjana. Aku yakin semua saudaraku pasti punya memori yang sangat panjang kalau berbicara tentang pendidikan ini. Aku hanya bisa menyampaikan sedikit dari hasil karya terbesar abah dalam mendidik anak anaknya. Tentu saja peran mamah sangat besar sekali sebagai pendukung dan lebihnya jadi fasilitator, inisiator bagaimana kami bisa sekolah dengan keterbatasan ekonomi yang sangat minim.

Pesan Abah adalah "Irman, kamu harus kuliah, kalau kamu tidak mengambilnya abah hanya berpesan kamu jangan hidup di rumah ini".

Waktu itu aku sendiri tidak begitu menghiraukan, apa itu ancaman, motivasi, atau apapun itu namanya. yang jelas dalam benakku aku hanya tahu abah ini kalau aku sekolah ke kota (SMP dan SMA) aku jarang dikasi uang jajan atau uang lainnya. yang jelas aku hanya dikase ongkos berangkat ke tasik tanpa dikase lebihnya. Aku tahu abah percaya bahwa aku masih punya andalan lainnya yakni nenek ku (orang tua mamah) yang tinggal dan besar di kota tepatnya di Jalan Sukalaya 2, Kota Tasikmalaya. itulah tempat dimana aku sewaktu kecil ditempa di perhadapkan dengan satu realita hidup yang cukup prihatin. (aku akan ceritakan tersendiri).

Sekelumit informasi tentang saudara ku

1. Budi Setiadi, terus terang karena perbedaan umur kadang sulit memposisikan diriku dengan kakak pertama ini. Tidak banyak memori sewaktu kecil dengan dirinya. Mungkin ini salah satu alasan kenapa aku dan hampir semua ade adeku juga mengalami hal sama begitu sulit melakukan komunikasi layaknya saudara kandung. tapi jangan ditanya bantuan yang telah diberikan pada kami untuk pendidikan seluruh ade-adenya. Pengorbanan dan keikhlasannya tidak akan tergantikan sampai kapanpun. Aku punya analisa sendiri kenapa selama ini jarang berkomunikasi dengannya. Ternyata yang mengganggu adalah latar belakang dirinya sebagai birokrat murni dan aku lebih sering beraktivitas di lsm dan media. Kakaku adalah figur ideal kedua orang tuaku dan tentu saja seluruh keluarga dan ade-adeknya. Dia mulai berpendidikan formal tanpa pernah di swasta SD-SMA Negeri di Tasikmalaya. Setelah keluar dari SMA dia meneruskan di APDN, IIP dan terakhir dia saat ini sedang mengambil program doktoral (S3) di UNPAD. Menurut cerita orang tuaku kakak ini ga pernah mengeluh soal pendidikannya. mungkin ini analisa dangkalku, dia ditempa di pendidikan APDN yang waktu itu sangat pertisius. Susah sekali anak orang kampung, tidak berpunya, tidak berpangkat bisa lolos. Karirnya cepat, dia termasuk Camat termuda di Subang saat ditunjuk jadi Camat Kalijati kemudian Camat Pamanukan. Aku kagum atas dirinya.

Mungkin aku subjektif atas idealisme yang aku pegang saat ini karena sebelumnya aku sering berbeda pendapat. Pengakuanku atas dirinya adalah saat dimana dia memposisikan seorang birokrat yang tidak tunduk kepada atasan tapi tunduk pada sistem dan aturan yang berlaku. mungkin bisa dikatakan dia satu satunya yang aku tahu seorang pamong melawan bupati yakni Bupati Subang dengan idealisme sebagai seorang pamong sejati. Dia berani melawan sendiri penguasa otonomi daerah walaupun jabatan, karir dan kesempatannya dia korbankan. Dia melawan dengan jalur dan sistem yang berlaku. pesan yang dia sampaikan ke aku saat dirinya menggugat Bupati Subang ke PTUN Jawa Barat adalah "Saya tidak mencari jabatan, Saya hanya ingin mengungkap kebenaran dan pembelajaran bahwa kekuasaan itu tidak bisa digunakan semena mena, kita harus melawan ketidak benaran, kita harus tunjukkan posisi pamong itu seperti apa". dan akhirnya dia memenangkan gugatan tersebut. Sebuah bentuk perlawanan yang aku sukai dari seorang birokrat. itu kaka pertama yang banyak mewarisi abah uu.

2. Yana Noviadi, Seperti kakak pertama ku, yana ini juga aku tidak begitu banyak berinteraksi sewaktu kecil. aku lebih mengenalnya sewaktu SMP dan SMA. Yana adalah pelopor dan sekaligus marketing ulung (orang dikampung tidak banyak mengetahuinya). akhir tahun 80-an Yana sudah memutuskan untuk bekerja di Jakarta. termasuk berani bagi ukuran anak kampung saat itu. yang aku tahu yana pernah bekerja di satu dealer Tunas Ridean motor. Karirnya cepat sekali naik. secara ekonomi telah mampu membantu pendidikanku waktu itu. tapi satu hal, mungkin juga punya inspirasi lainnya kakak kedua ini tidak lagi betah tinggal di Jakarta dan memutuskan pulang kampung. Cukup lama melakukan penyesuaian dan berinteraksi dengan sesamanya, dia terinspirasi untuk melakukan terobosan menghutankan kembali hutan mata air di kampung. aku sendiri merasa menjadi bagian dalam proses perjuangannya. Menurutku karena kemampuan dirinya sehingga menjadikan cita cita orang tua ku terjadi yakni jadi Kepala Desa Mandalamekar. sepak terjangnya dapat dilihat di blog yakni http://mandalamekar.wordpress.com

Aku melihat ada begitu banyak warisan orang tuaku menetes dalam dirinya terutama bagaimana dia bisa menjadi seorang pamong di desanya dan tentu saja bergaul dengan semua elemen di desanya. jiwa perlawanannya sering muncul saat dia mau berbeda pendapat dan strategi dengan camat bahkan Bupati sekalipun. Analisanya kadang nyeleneh tapi sering benarnya. Aku sering melihat diri Abah pada dirinya terutama saat mempertahankan sesuatu yang dia anggap benar.

3. Reni Nilawati Dewi, aku dan mungkin hampir saudara saudaraku sering menyebutnya si perantara. dia seorang yang mewarisi abah dari sisi pendidik yang sebenarnya. dia murni seorang guru yang tidak takut kepada siapapun, konsisten mengemong anak anak, siswa dan suami dengan campuran adat kota dari mamaku dan tentu saja abah dari kampung. Selama ini peran abah sering dia gunakan karena untuk mempermudah komunikasi diantara saudaranya sering menggunakan jasanya. kalau bercerita sering memberikan penjelasan antara sejarah sewaktu kami masih kecil dan sebagainya. pendidikan formalnya adalah mengambil Diploma 2 jurusan bahasa inggris di IKIP Bandung sekarang UPI. dengan telaten dia teruskan pendidikannya di D3, S1 dan sekarang sedang mengambil magister (S2). Bakat fasilitatornya sangat kuat, disadari atau tidak oleh dirinya aku sering melihat dia begitu pintar menjembatani perbedaan diantara kita. dia lah yang memperkenalkan pertama kalinya kepada ku bahasa inggris.

Mungkin ada sebagian orang melihat kami ini keluarga aneh. karena kami begitu terbuka satu sama lainnya, kadang kami ini begitu cuek satu sama lainnya. Hari raya lebaran adalah saksi tahunan yang memperlihatkan bagaimana kami sebenarnya adalah orang orang yang punya strong personality. kakaku guru ini juga bagian tidak terpisahkan dari orang orang yang begitu bebas menyampaikan pendapat dalam keluarga ku.

4. Evi Silviadi, dia adalah saudara yang paling nyeleneh dikeluarga ku. mungkin karena umurku tidak jauh tidak lebih dari 2 tahun, dan tingkat sekolah cuma beda 1 tingkat. aku sering berinteraksi dengan dirinya dan cukup paham polah tindak dirinya waktu kecil. Sekarang dirinya begitu berani walau kadang diriku sering tidak sependapat pada strategi dan pendekatan yang sering dia gunakan terutama saat melawan dengan penguasa di Subang. kalau kita mengetik kata evi silviadi di google, dirinya menjadi salah satu pelopor pemuda disana untuk melawan ketidakbenaran. yang lebih aku ga habis pikir adalah dirinya ditunjuk oleh tetua tetua adat sunda untuk menjadi ki Sunda alias ketua adat sunda dan langsung bikin gebrakan usulan provinsi pasundan. terakhir ini aku diberikan gambaran seorang abah dalam dirinya yakni dia begitu berani melawan siapapun. Premanisme dia lawan dengan pendekatan preman. dipenjara malah dia gunakan untuk memperkuat dirinya membangun jaringan. Saya malah bersyukur kakaku di berikan kesempatan untuk melihat secara jernih dari penjara yang bagi saya itu adalah konsekuensi logis dari perbuatannya melawan kekuasaan bukan melakukan tindakan kriminalisasi. walau kadang ku merasa miris karena begitu tipisnya cara dia melakukan perjuangan dengan tindakan yang "agak" gegabah.

aku sering mendengar bagaimana dia berjuang untuk mendapatkan pendidikan formal diperguruan tinggi sampai selesai. sungguh berat hingga kadang sering meluap emosinya jika sedang mengenang masa masa itu. Menurut temen temennya dia punya kekuatan indra ke enam. Aku sendiri tidak begitu paham akan masalah itu.

5. Rika Susanti Dewi, dia mewarisi leluhur dari caranya berfikir kritis dengan cara halus dan senyum. Abah adalah orang yang selalu senyum, jarang sekali kami melihat abah memperlihat perangai marah. seingatku abah adalah orang yang paling disegani kadang ditakuti oleh pemuda waktu itu. disiplin dan mendorong anak anak muda untuk sekolah. aku tidak melihat pemuda yang masih sekolah saat itu berani merokok. padahal sempat dia bilang kapan abah pernah memukul orang atau menampar kepada anak anak. yang pasti dia memberikan pengetahuan dan mendorong orang tua untuk menyekolahkan anak anak. sampai akhir sewaktu sakitpun dia sering memberikan pengalaman hidupnya kepada orang lain. Rika seorang yang penuh senyum dan tekun dengan apa yang dilakukan. seorang PNS dan sekarang sedang mengambil S1.

6. Dida Fitri Dewi, Seorang perawat di Puskesmas di Subang ini saya melihatnya hampir sama dengan kakak ke tiga ku neneng (reni). dia begitu dekat dengan pasien tidak sekedar waktu di puskesmas tapi diluarpun hubungan komunikasinya dia tetap jalankan. dia mewarisi abah dari keteguhannya dibidang kesehatan. ada satu yang membuat ku sedikit berhubungan antara evi kakak 4 ku dengan dida ini atas apa yang pernah dilakukan abah sewaktu aku masih smp. waktu smp kelas satu aku harus berjalan 7 km untuk sampai ke sekolah. satu waktu aku bareng sama abah jalan kaki. dalam perbincangan yang panjang abah pernah bilang "nanti anak anak abah ada yang ke luar negeri, dia akan jalan jalan di eropa dan amerika" aku tanya siapa bah ? dalam benak ku aku berfikir itu pasti neneng ato budi karena mereka sudah kuliah dan kerja. Alhamdulillah ternyata aku adalah bagian dari terawangan abah, sedikit waktu aku pernah di belahan dunia ini atas apa yang pernah dicita-citakan abah waktu itu begitu banyak negeri yang tak pernah terpikirkan akan di injak dalam waktu 5 tahun ini. Brasil, peru, costarica, papua nugini, amerika serikat, dan transit di belanda, singapura, malaysia, jepang dan satu negara di kepulauan karabia pernah ku ambil langsung momentumnya. sekarang keluarga dari kampung yang tertinggal ini ada cucu nya anak pertama dari Budi namanya Bezi yang sekolah di Perancis.

aku kadang berpikir dida mewarisi kedekatannya dengan masyarakat, terawang jauhnya dan tentu saja kebenarannya sewaktu budi dan keluarga keluar negeri dan cucunya yang saat ini terus berjalan di eropa seperti perkataan abah waktu diperjalanan tersebut.

7. Uceu Maria Dewi, si bungsu yang dimudahkan rezekinya. aku langsung mendapat pesan dari abah sewaktu aku pulang ketasik saat aku kuliah di Manado dulu. dia hanya berpesan "Abah dan mamah tidak minta apapun dari semua anak-anaknya. abah hanya titip si bungsu uceu karena dia tidak kebagian dari harta berharga lainnya untuk pendidikan. semua tanah dari mamahmu sudah habis untuk biaya kuliah. uceu tidak kebagian. abah titip uceu." Itu pesan abah kepada kami semua akan pentingnya pendidikan buat anak anaknya. walaupun dia tidak ada harta dia merasa punya harta terbesar yakni anak anaknya. sekarang dengan begitu lancarnya pendidikan formal dirinya. uceu terasa begitu mudah menggapai cita cita. kami merasa itu adalah bagian dari strategi abah dalam membangun keluarga yang benar. Uceu skarang selain apoteker dia sudah punya apotek sendiri. suatu potret keberhasilan dalam usia muda.

kami dipersatukan oleh pendekatan abah dan mamah yang secara sadar dan tidak telah mempersatukan keluarga chikiray/petir dan bahkan dengan keluarga besar abah lainnya, sepupu dan saudara lainnya. pendidikan lah yang telah mengentaskan dari kemiskinan. Harta warisan tanah dari mamah yang dari kota telah habis dan tidak tersisa sejengkalpun. tapi abah telah melanjutkan pesan mertuanya yakni "abah haji (kakek) rela harta warisan ini dijual hanya untuk 2 hal. pertama kalau uangnya dipake untuk pendidikan atau kedua membeli lahan ditempat lainnya". pesan kedua orang tua itu kami resapi sampai sekarang kami bertekad untuk mengembalikan harta warisan orang tua yang berpindah tangan untuk pendidikan. kami kembalikan dalam bentuk pengabdian dan lahan yang saat ini kami buat walaupun untuk tujuan lainnya.

sekarang abah sudah almarhum. dalam keyakinan kami adalah salah satu yang masih bisa menghubungkan tali silahturahmi almarhum dengan anak-anaknya adalah doa atau tindakan baik yang dilakukan oleh penerusnya. semoga tulisan ini akan terus menjadikan kami inspirasi untuk berbuat yang terbaik bagi masyarakat, keluarga dan lainnya.

selamat jalan abah....