Catur adalah awal dari segalanyaAku bukan ahli memainkan bidak catur, tapi lebih pada catur bukan barang baru bagiku. Sebelum usiaku genap untuk masuk Sekolah Dasar, abah sudah memperkenalkan catur. Mulai dari nama nama bidak, abah dengan telaten mengajari cara melangkah bidak bidak tersebut. Kuda, patih, raja, anak, kuncung dan benteng adalah kata kata yang melekat pada diriku disaat aku sendiri belum mengenal dengan jelas hurup dan rangkaian kata-kata.
Permainan ini sempat membersitkan satu cita cita untuk menjadi seorang juara Catur saat orang-orang bertanya, “irman, kalau sudah gede mau jadi apa ?” spontan jawabku “Pecatur !!!”. Perlahan tapi pasti aku sering dimainkan dengan orang orang yang usianya jauh dari aku. Karena saat seusiaku jarang anak tersebut bisa main catur.
Keinginan kuatku untuk jadi pemain catur runtuh saat aku dikalahkan kawan kelasku saat aku SD dulu. Namanya Edi anak kepala sekolah yang neneknya ade kakak dengan kakek saya. Sejak itulah catur tidak lagi jadi bagian hidupku, tapi sampai saat ini kalau ada yang ngajak main catur aku selalu ingat kapan dan apa pengaruh permainan catur ini dalam hidup hidupku dimasa kini dan masa akan datang.
Catur telah membuat otakku tidak pernah berhenti untuk terus bekerja. Dimanapun, kapanpun dan apapun situasinya pikiranku selalu mengarah pada pikiran pikiran besar pada masa akan datang. Bagiku ini agak sedikit berbeda dengan “LAMUNAN”, karena apa yang terpikirkan itu perlahan tapi pasti telah menjadi kenyataan. Sebagai manusia yang tidak pernah sempurna, pikiran atau terawang kedepan juga suka mengarah pada hal hal yang mustahil, jelek, kotor dan tentu saja nyerempet bahaya.
Catur juga yang membuat diriku lebih mengandalkan otak ini untuk daya ingat dan mengedepankan logika dalam segala hal. Urusan pekerjaan, persinggungan dengan lawan jenis, sampai agamapun sebelum otak ini mampu aku berusaha mengoptimalkan peran otak pada titik tidak terbatas. Aku diuntungkan oleh sikap konsistensi pada cara kerja otakku untuk mencapai satu kondisi ideal pada masa akan datang. Aku percaya bahwa memformulasikan satu kondisi pada masa akan datang dinamakan dengan Cita cita. Banyak hal sudah aku rasakan hasilnya. Status pekerjaan, pasangan, dan keahlian yang dirasakan sekarang adalah bentuk dari konsistensi dalam memelihara pikiran pikiran sebelumnya.
Saat ikut proses wawancara di Lembaga Conservation International Indonesia di Jakarta antara bulan September – oktober 2004. Aku ditanya ibu Yuli disaksikan ibu Mega, Amalia Firman dan Irdez Azhar tentang apa yang akan dilakukan jika tidak lagi bekerja di CI. Jawabanku dengan Pasti “5 tahun mendatang aku akan jadi Petani”. Aku diterima di CI tanggal 18 Oktober 2009 dan 5 tahun tambah 1 bulan berikutnya aku berhenti di lembaga yang aku geluti. Tidak ada yang bisa melawan dengan keinginan tersebut. Berbagai strategi dan pendekatan aku lakukan. Hasilnya, aku dan keluargaku saat ini tidak lagi termasuk dalam ke tujuh golongan penerima zakat.
Ada kebiasaan lama yang sampai sekarang tidak bisa dihilangkan karena aku anggap ini berasal dari kebiasaanku mengolah otak sejak kecil dulu akibat stimulus permainan Catur ini. Pertama, adalah keahlian menulisku sungguh buruk dan menjadi satu satu nilai C sewaktu aku kuliah di Fakultan Ekonomi Jurusan Manajemen Keuangan, Universitas Sam Ratulangi itulah pelajaran Bahasa Indonesia. Aku akui orang yang mengetahui tulisanku mungkin hanya diriku saja. Kadang banyak juga tulisan tulisan tersebut aku sendiri suka missing. Kelemahan kedua adalah aku selalu berpikir lebih jauh kedepan dengan berbagai analisa dan konsekuensi logis lainnya padahal yang kita hadapi adalah orang yang membutuhkan pikiran sederhana dulu. Menurutku hal ini lah yang mungkin saja sering menimbulkan konflik saat membangun satu hubungan silahturahmi dengan sesama manusia. Dan konskuensi lain dari permainan catur ini kadang aku jadi orang tidak sabaran dalam menghadapi sesuatu.
Perilaku terakhir yang dipengaruhi oleh permainan catur adalah aku selalu bermain dengan tanpa melihat siapa yang kita hadapi ini. Dalam pandanganku semua orang itu prinsipnya sama yang membedakan adalah kesempatan, keberuntungan dan latar belakang atau sejarah orang tersebut. Kaya, miskin, pejabat, rakyat jelata, dan semuanya itu sudah ada sejak sejarah ini mulai dijalankan. Dari cara bermain caturlah perilaku pendekatanku luarbiasa dipengaruhinya. Aku tidak mengenal takut pada siapapun walaupun taruhannya adalah pekerjaan, keluarga maupun nyawa sekalipun. Aku akan selalu berhadapan dengan kondisi dimana aku pasti melawan ketidakbenaran dan ketidakadilan dalam ruang atau lingkunganku bermasyarakat dan bekerja. Rata rata setelah waktu tertentu nasibku selalu pemecatan dan pembubaran team karena dalam diriku selalu tanpa kompromi dalam bernegosiasi. Dalam setiap permainanku kadang aku mengorbankan perwira dan seluruh bidak yang kupunya sampai titik darah penghabisan daripada harus menunggu dan memainkan strategi lainnya. Tapi sifat tersebut mulai ada penyesuaian saat diriku bergabung dengan lembaga CI. Dan alih alih diakhirpun tetap saja sifat bertahan pada keyakinan bahwa apa yang kita perjuangkan juga berdampak pada berakhirnya hubungan kerja di CI. Aku punya niatan lain dalam mengakhiri hubungan tersebut, yakni aku punya cita cita dan tindakan yang sangat urgent sebagai petani di lembur.
Aku menyadari ada ahli dan pemikir besar telah menjadikanku saat ini, kemandirian berpikir, selalu berfikir ke masa akan datang, menyukai sejarah sebagai dasar dan latar belakang kenapa kekinian ini bisa terjadi dan keberanian mengambil keputusan. Tentu saja ada pikiran pikiran lainnya yang mempengaruhi saat ini karena interaksiku dengan dunia aktivis dan bacaan bacaan kesukaan ku yang sering berbeda dengan kebiasaan pikiran mahasiswa lainnya. Mas Pram, mas Marx, Nabi Muhamad SAW, Tan Malaka, Arif Budiman, Mansur Fakih dan begitu banyak tokoh besar lainnya telah menambah hasanah berfikirku yang selama ini telah ditanamkan oleh seorang sekretaris desa dan sekaligus pelopor Soksi di Kabupaten Tasikmalaya.
Tanah dan inisiatif yang ditimbulkan
Beberapa waktu sebelum abah meninggalkan kami semua. Abah sebenarnya telah meninggalkan harta terbesar bagi seluruh warga Desa Mandalamekar. Dengan tidak menafikan peran dari tokoh tokoh desa lainnya abah telah membuat tertibnya kepastian dan kedudukan kepemilikan lahan bagi masyarakatnya. Otaknya adalah kamus berjalan bagi setiap warga saat bertanya tentang kepemilikan lahan. Walaupun dirinya belum ke tempat yang ditujukan oleh warganya, abah bisa menyelesaikan konflik kepemilikan maupun sejarah kepemilikannya. Sebelumnya aku tidak ngeh dengan situasi tersebut. Setelah diskusi yang panjang lebar dengan aktivis senior Papua ka Abner Korwa baru aku sadar sepenuhnya bahwa abah telah meletakan satu pondasi terbesar dalam sejarah perjuangan besar manusia dimuka bumi ini. Abah telah membaca jauh sebelumnya saat dirinya jadi karyawan salah satu BUMN perdagangan (Jaya Bakti) mengenai bentuk dan namanya mungkin ada kesalahan. Tapi abah telah mendapat begitu banyak pengetahuan dan mungkin sudah menjadi ideologinya kalau penguasaan tanah yang tertib dan benar oleh setiap rakyatnya maka kehidupan yang berikutnya akan lebih mudah. Aku termasuk orang yang sangat dipengaruhi oleh dirinya. Sewaktu kuliah dulu, aku tidak mempunyai pikiran bahwa modal terbesar bagi sebagaian rakyat di Indonesia ini adalah kepemilikan yang jelas tentang Tanah. Aku sendiri orang yang cukup skeptis terhadap kepemilikan tanah tersebut. Ternyata aku salah besar dalam hal ini. Baru 5 tahun terakhir sejak pikiranku terbuka aku mensinergikan tiga tujuan besar jika rakyat Indonesia bisa bangkit. Kemandirian pengetahuan, keterampilan, penguasaan alat produksi dan kepemilikan lahan adalah mutlak dan jadi prasyarat dalam perlawanan bangsa dan tentu hal kedua adalah dukungan dan berjuang bersama masyarakat yang sadar akan ketertindasan dan ketidak adilan. Sementara terakhir adalah ketersediaan dan dukungan alam dalam pengolahan lingkungan yang ada. Kita butuh ketersediaan pasokan air, udara yang sehat dan lahan yang subur. Desa Mandalamekar sudah memastikan lahan bersama itu ada untuk kepentingan pertanian warganya. Luar biasa… itu pernyataanku saat menyadari apa yang sebenar-benarnya telah dilakukan seorang abah.
Aku yakin dan percaya saudara kandung ku lebih banyak, kreatif dan berwarna lagi dalam menggali inspirasi dan pembelajaran yang telah diberikan abah kepada kami. Abah telah memberikan media kepada kami ruang diskusi depan rumah kami yang setiap saat selalu ada perdebatan, pembangunan konsep dan strategi yang intinya telah menggerakan sebuah status kemasyarakatan lebih baik sebelumnya.
Salah besar secara substansial orang yang mengatakan bahwa pendidikan akan mengentaskan kemiskinan. Menurut dan pengalamanku yang sebenarnya adalah pendidikan telah memberikan kita pengetahuan, keterampilan dan cara mencari berbagai alternative untuk merubah perilaku kita pada masa akan datang. Pendidikan yang benar tidak akan menjadikan kita sebagai robot kesayangan para pemilik modal yang pada waktunya robot tersebut sudah aus akan diganti dengan robot-robot baru lainnya.
Betul saat ini di Indonesia pengikut pendidikan formal telah menjadikannya jabatan dan harta berlimpah, karena memang Indonesia saat ini masih mewarisi penjajahan dan system kapitalisme dalam diri pengambilan kebijakan. Abah merelakan semua itu dengan mengambil keputusan pulang kampung di akhir tahun 1960 an dan membangun gubuknya sebagai langkah awal berjuang di Desa Mandalamekar. Abah bagiku tidak akan tergantikan, mungkin abah bisa tergantikan jika kita 8 bersaudara bersatu mengoptimalkan dirinya.
